Tittle : Postman To Heaven
Casts
: Jung Yunho, Kim Jaejoong
Genres : Yaoi, Romance, Angst
Rate : PG-17
Length : 1 of 3
Warning :
-
Ini cerita Yaoi
(Boy × Boy)
-
Alur berantakan
-
Typos everywhere
-
Feel nya kurang
Happy
reading
Author’s VOP
“Jung Yunho”
“hmm”
“Jung Yunho”
“…………………….”
“Yaaa JUNG YUNHO!!!!”
“wae?!!!!”
“bisakah kau lebih sopan kepadaku
huh?!!”
“sumbaenim, bisakah kau mengerti kondisiku
sekarang ini? aku benar – ben….”
“ aku tau Yunho ah, aku juga pernah
merasakannya, cobalah untuk mengikhlaskan takdirmu ini.”
Pria berjubah putih ini perlahan mendekati
Jung Yunho yang terduduk lemas diatas lantai bewarna merah, dia mensejajarkan
tubuhnya dengan Jung Yunho dan menyentuh pundak yang kokoh itu.
“aku tidak ingin seperti ini
sumbaenim, ini terlalu cepat untukku, usia ku masih 22 tahun. Aku belum
melakukan apapun yang aku inginkan hiks hiks” Jung Yunho yang berpundak kokoh
ini menenggelamkan wajahnya di telapak tangganya yang besar dan lebar. Perlahan
ada tetesan air mata yang keluar dari sela – sela jari tangannya.
“Yunho ah, kuatkan dirimu dan hadapi
semua ini”
“aku masih ingin merasakan pelukan
kedua orang tua ku” isakkan Jung Yunho semakin keras seolah tidak mempedulikan
semua orang disekitarnya yang bernasib sama dengannya.
“Yunho, dengarkan aku baik – baik,
sekarang ini aku akan memberimu sebuah tugas. Tugas ini mungkin terdengar
mustahil tapi jika kau melakukan dengan baik dapat aku pastikan kau…..” Pria
berjubah ini tidak melanjutkan kalimatnya, dia merasa ragu akan ucapannya.
“aku kenapa? Dan tugas apa?” Jung
Yunho membuka kedua telapak tangganya dan menunjukan wajahnya yang sudah basah
karena linangan air mata.
“bukankah kau pernah berkata ‘bisakah
aku meninggalkan dunia ini dengan layak?’ dengan tugas ini dapat aku pastikan
kau akan pergi dengan tenang, dan tugas ini akan aku beritahu nanti, sekarang
ikuti aku dan bersihkan wajah tampanmu yang terlihat lusuh itu”
Jung Yunho menuruti apa yang
diperintahkan Pria berjubah yang bekulit penuh kerutan ini, dia menundukan
kepalanya saat melintasi sebuah lorong yang setiap sisinya dipenuhi oleh orang
– orang yang bernasib sama dengannya, ada yang menangis, marah, dan juga ada
yang tertawa. Lorong yang dilewatinya sangatlah panjang dan gelap bahkan Yunho
sendiri semakin merasa ragu dengan apa yang akan menjadi tugasnya.
“ayo masuk” seru pria yang akrab
dipanggil sumbaenim.
“ye? Kita mau kemana? Kenapa kita naik
lift?” Yunho mencoba memperhatikan setiap lekuk lift dihadapannya, dia merasa
bingung dengan sikap Sunbae nya yang
selalu tersenyum saat dia mendapati wajahnya.
Ssssssssssssssssssttttttttttttttttt
“cha, kita sudah sampai” Pria berjubah
itu menyentuh kedua pundak Yunho dan merapihkan kemeja putihnya yang
berantakan.
“dimana ini sunbaenim?” Pria yang
memiliki sorot mata tajam ini merasa heran dengan keberadaanya saat ini.
“Yunho ah, kita ada dibumi, aku
memilihmu untuk melaksanakan tugas ini karena aku percaya kepadamu, dan tugasmu
adalah menjadi Postman to Heaven” ucap pria tua ini mantap
“mwo? Tugas macam apa itu?”
“kau lihat kotak pos yang ada
disebelahmu itu, dan cobalah kau buka apa isinya”
Yunho menyentuh kotak pos yang ada
disampingnya, dilihatnya ada tumpukan surat, mainan anak – anak, makanan dan
banyak lagi hal – hal yang membuat sosok yang berahang tegas ini mengerutkan
alisnya. Dia menyentuh sebuah surat dan membacanya.
( Park Ha Na, apakah kau melihat air mataku
saat ini? aku menagis bukan hanya karena kesedihanku, tapi aku menangis karena
kau membalas suratku ini, aku bisa tau keadaanmu saat ini ternyata kau baik –
baik saja dan kau selalu mengawasiku diatas sana, gumawo … suratmu ini telah
menguatkanku yang rapuh setelah kepergianmu. Apa kau lapar? Aku memasakkan
kimchi kesukaanmu, ini murni buatanku, kalau kau suka kasih tau aku untuk
membuatnya lagi. Aku menunggu balasan suratmu sayang. I Love You “Kim Jaejoong” )
“Makan kimchi nya dan balas surat itu,
itulah tugasmu Jung Yunho, aku pergi ”
“chakkaman… apakah aaa”
Sebelum Yunho menyelesaikan
kalimatnya, Pria tua itu telah menarik tangan Yunho untuk bersembunyi dibalik
rerumputan yang jaraknya hanya 12 meter dari posisi semula. Ternyata ada lelaki
separuh baya tengah melangkah ke arah kotak pos dan memasukkan surat
kedalamnya.
“kenapa kita bersembunyi? Bukankah
orang itu tidak dapat melihat kita” Ucap Yunho heran.
“aniya yunho ah, aku lupa member
tahumu, kalau kau bisa terlihat tapi hanya untuk orang – orang yang merasa
kehilangan dan percaya surga itu ada. Termasuk orang itu bisa melihatmu karena
dia masih merasakan kehilangan istrinya yang telah meninggal, jadi kau harus
berhati – hati jangan sampai tertangkap dan apabila ada yang mengetahui tugasmu
ini jadikan dia patnermu. Dengan begitu akan ada yang membatumu menyelesiakan
tugas ini, berusahalah untuk jujur kepada patnermu karena itu akan
memudahkanmu. Yunho, waktumu hanya 14 hari, manfaatkan tugas ini dengan baik”
“aaapa aku bisa mendapatkan mukjijat
dengan melakukan tugas ini, tubuhku masih terbaring lemah di RS, bisakah aku bangkit
dari koma ku dan hidup?” Ucap Yunho terbata, mata musangnya menatap mata yang
ada dihadapannya dengan tatapan penuh harapan.
“itu mustahil Yunho, ini sudah
takdirmu, karena dari semua yang pernah bertugas seperti ini mereka tidak dapat
hidup kembali. Tapi……aku tidak dapat memastikan kedepannya.”
Linangan air mata keluar dari kedua
sudut mata Yunho. Ini sudah dipastikan mata Yunho akan memerah dan bengkak
karena ia tidak berhentinya menangis.
“ne aku mengerti itu sangat mustahil
hiks hiks, eumm bisakan aku menemui orang tua ku? Mereka bisa melihatku?”
“Kau hanya bisa melihatnya tapi orang
tua mu tidak bisa melihatmu, ini sudah hukumnya, baiklah aku pergi, aku akan
mengawasimu”
Tringgggggg
Yunho’s VOP
Aku menghampiri kotak pos setelah
lelaki separuh baya itu pergi. Ku buka kotak pos itu dan memasukkan semua surat
kedalam tasku dan tak lupa aku membawa kotak makanan yang berisi kimchi. Cukup
jauh aku berjalan mengelilingi padang rumput yang luas akhirnya aku menemukan
sebuah bis yang berhenti tepat dihadapanku. Ku alihkan pandanganku kepada sosok
yang sedang duduk mematung dibangku supir, aku dapat memastikan dia sepertiku
yang membedakan hanya tugas aku dengannya yang berbeda.
20 menit waktu berlalu, sekarang ini
posisiku ada dipesisir pantai yang indah, aku bisa melihat langit yang berwarna
oranye karena memang ini saatnya matahari terbenam.
Brukkkk, aku hempaskan tubuhku diatas
kursi yang tidak empuk ini, untung saja aku tidak dapat merasakan sakit
meskipun benda tajam menusukku.
“ruangan ini sangat kecil tapi hangat”
seruku saat aku mengedarkan pandanganku kesegala sisi yang kini menjadi tempat
tinggalku.
“saatnya bertugas, Jung Yunho
hwaiting!!” semangatku dengan nada suaraku yang sedikit parau, lalu aku membuka
semua surat – surat yang ada dihadapanku.
“ternyata ini sangat sulit…. Hmm aku
akan membalas surat a/n Kim Jaejoong sebagai tugas pertamaku. Tapi aku harus
menyicipi kimchi buatannya terlebih dahulu. Sluuurrppp~~ omo, ini enak sekali
dan rasanya seperti…. Kimchi buatan ibuku. Omma, ternyata ada seseorang yang
bisa membuat kimchi sama sepertimu”
Aku menghabiskan kimchi didalam kotak
nasi tersebut tanpa menyisakkan sedikit pun, lalu aku mulai menulis di atas
sebuah kertas berwarna merah muda.
(Jaejoong oppa, aku senang mengetahui
kondisimu yang semakin membaik, pertahankan nee, aku akan senang melihatmu
tersenyum, karena senyumanmu bisa membuat langit yang sekarang menjadi tempat
tinggalku menjadi teduh. Aku sangat menyukai kimchi buatanmu, rasanya sangat
enak, buatkan lagi untukku lebih banyak karena aku butuh banyak tenaga untuk
mengawasimu kekeke. Saranghae oppa “
Park Ha Na”)
“mianhe jaejoong ah, tapi aku sangat
menyukai kimchimu” ucapku seraya melipatkan surat buatanku membentuk origami
angsa.
“hushhhhh, akhirnya 85 surat ini sudah
selesai aku tulis balasannya”
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………....
2
hari berlalu******
“tidak
terasa ini adalah hari ke 11 ku, aku senang dengan tugasku karena aku
menikmatinya. Baiklah ini saatnya aku meletakkan surat ini kedalam kotak pos
sebelum matahari terbit dengan sempurna”
Tapppppp
Aku
tutup kembali kotak pos itu setelah aku meletakkan surat – surat baru kedalam
tasku.
“yaaaa
kenapa membawa semua surat – surat itu”
DEG~
Jantungku
berdetak sangat kencang saat ada suara dibelakangku, ‘dia menangkapku’
“ini
adalah tugasku, agasshi” aku berusaha menutupi wajahku yang sedikit resah
dengan tersenyum kepada sosok berambut coklat kekuningan dihadapanku.
“mwo?”
Dia menatap mataku sangat intens, tatapannya penuh kecurigaan.
“postman
to heaven adalah tugasku” aku membalikkan tubuhku berusaha untuk mengalihkan
pandangannnya yang aku rasa ‘ada sesuatu’
“mwo?
Geunde, nuguseyo?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar